Selasa, 22 April 2014

TIDAK MAU JADI PEJABAT (kisah Abu Nawas versi humor)

               Pada suatu hari, ayah Abu Nawas sakit parah dan meninggal dunia. Tiba-tiba Abu Nawas dipanggil ke istana oleh Sultan. Dia diperintahkan Sultan untuk mengubur jenazah ayahnya sebagaimana adat Syeikh Maulana. Abu Nawas pun melakukannya sebaik mungkin seperti Syeikh Maulana, baik mengenai tatacara memandikan jenazah, mengkafani, menyalati dan mendo'akannya. Kemudian selang beberapa saat, terjadilah percakapan antara Baginda Sultan dengan Perdana Menterinya.

Sultan bertanya : "Bagaimana kalau Abu Nawas aku angkat menjadi KADI atau PENGHULU / PEJABAT kerajaan ??? daripada susah-susah mencari orang lain...bagaimana menurut pendapatmu Menteri...??? hemm... boleh juga ide itu....".

Menteri menjawab: "Saya setubuh Baginda Sultan mengenai ide tersebut."

Sultan berkata   : "Apaaaaa.... KURANG AJAR kau Menteri... kamu mau bersetubuh denganku...??? apa kamu tidak laku kawin sampe-sampe mau bersetubuh denganku??? dasar Menteri gila...!!!"

Menteri menjawab : "Oh... mmmmmaaaaaaffffff...maaf beribu maaf Baginda Sultan...bukan maksud saya ingin  bersetubuh dengan Baginda, tetapi.. maksud saya adalah SEPAKAT dengan ide Baginda. Hehehe..."

(Menteri berkata dalam hati : "begitu aja marah... dasar Sultan gak Gaul...!!!")

Sultan berkata : "OOOooo.... maksudmu SEPAKAT.. aku kira kamu HOMO.. ya udah, segera persiapkan segalanya untuk melantik Abu Nawas".

Menteri menjawab : " Iya Baginda Sultan, segera akan saya persiapkan pelantikannya."

(Menteri berkata dalam hati : "Apaaa... aku disebut HOMO...??? kamu tuh yang TELMI alias TELat MIkir...!!! ancrit...)

           Setelah pemakaman Ayah Abu Nawas, kabar berita Abu Nawas akan dilantik menjadi PENGHULU / PEJABAT oleh Sultan sampai ditelinga Abu Nawas. Tiba-tiba Abu Nawas mendadak Edan atau Nyeng / Weng / Sheinthing alias Gila. Usai upacara pemakaman ayahnya, Abu Nawas mengambil sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda. Dia menungganginya sambil berlari-lari dari kuburan ayahnya menuju rumahnya. Orang - orang yang melihatnya menjadi terkejut dan terheran-heran dibuatnya.
                    Satu minggu kemudian, Abu Nawas mengajak anak-anak kecil yang cukup banyak untuk pergi ke makam ayahnya sambil membawa alat musik rebana. Di atas makam ayah Abu Nawas, mereka bermain rebana dan bersuka cita. Semua orang menjadi semakin heran atas kelakuan Abu Nawas tersebut. Mereka menganggap Abu Nawas sudah gila karena ditinggal mati ayahnya.

                 Pada suatu hari setelah kejadian tersebut, ada beberapa utusan dari Sultan Harun Al Rasyid yang menemui Abu Nawas. Mereka bermaksud mengajak Abu Nawas menghadap Baginda Sultan. Terjadilah percakapan diantara mereka.

Wazir (Utusan Sultan) berkata : "hai Abu Nawas, kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana".

Abu Nawas menjawab : "buat apa Sultan memanggilku??? aku tidak ada keperluan dengannya".

Wazir berkata : "hai Abu Nawas, kau tidak boleh berkata seperti itu kepada Sultan. Sultan itu rajamu...".

Abu Nawas menjawab : "hai Wazir, kau jangan banyak cakap. cepat ambil kudaku ini dan mandikan di sungai sana supaya bersih." (sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan)

Wazir hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Abu Nawas. Kemudian......

Wazir berkata : " Abu Nawas, kau mau apa dengan tidak memenuhi panggilan Sultan???"

Abu Nawas menjawab : "katakan pada Sultan, aku sudah tahu maksud dia. Oleh karena itu aku menolak menerimanya".

Wasir berkata : "apa maksudmu Abu..???" (dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu)

Abu Nawas menjawab : "sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada Sultanmu." (sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilemparkan ke arah Wasir serta teman-temannya).

Wazir beserta beberapa utusan yang lain segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka segera melaporkan kejadian tersebut kepada Sultan bahwa, Abu Nawas sudah Shienthing dan menolak memenuhi panggilan Sultan. Sultan pun terdiam dan mengeram seraya marah sekali kepada Abu Nawas.
                      Selang 2 minggu kemudian, akhirnya Sultan memilih orang lain untuk dijadikan PENGHULU. Pelantikan PENGHULU oleh Sultan pun terlaksana dengan lancar. Mendengar kabar tersebut, Abu Nawas tertawa terbahak-bahak seraya berkata...

Abu Nawas berkata : "Untung aku pura-pura Gila, kalau tidak aku bisa remuk dijadikan PEJABAT oleh Sultan. Aaaasssssyyyyiiiikkkk aku bisa ngibuli Sultan beserta utusannya... aku cerdas bukan...???? hahahahahaha...."

ABU NAWAS (kisah lucu sang pujangga)

KATA PENGANTAR

             Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah Seribu Satu Malam. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

                Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai spiritual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya'qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadist, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa'ad as-Samman.

             Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab. Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

               Dalam Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya 
dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad).

             Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

            Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

            Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya. Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

              Abu Nawas meskipun telah tiada, kisah-kisahnya dapat membuat banyak orang tertawa. Di depan makamnya, ada pintu gerbang yang terkunci dengan gembok yang sangat besar sekali. Akan tetapi, di kanan dan kiri pintu tersebut pagarnya berlubang. Sehingga membuat orang - orang yang berziarah leluasa keluar masuk ke dalam area makam. Mungkin ini adalah simbol watak Abu Nawas yang kelihatannya tertutup, namun sebenarnya terbuka. 

       Beberapa orang yang meyakini, Abu Nawas adalah seorang Sufi yang tidak diperlihatkan kesufiannya. Kesederhanaanya membuat dia dekat dengan rakyat jelata. Bagaimanakah kisah kehidupan Abu Nawas...??? Ada misteri apa dibalik kehidupan Abu Nawas....??? silahkan anda nikmati kisah-kisahnya......


Referensi :
-MB.Rahimsyah. 2006. kisah kocak ABU NAWAS manusia lucu,kocak,kritis,pelawan arus,namun tetap disuka semua orang. Surakarta: AL-HIKMAH

-http://kisahmuslim.com/siapakah-sebenarnya-abu-nawas/

- http://nyatanyatafakta.blogspot.com/2011/08/biografi-abu-nawas.html

Senin, 14 April 2014

BIODATA PENULIS


Nama :  Rudy Atmoko

Alamat: Desa Bakaran Kulon RT 03 RW 02, kecamatan Juwana, kota Pati, Prop. Jawa Tengah 59185

TTL: Pati, 26 april 1986







Riwayat Pendidikan

1. TK Sedyo mulyo                         Lulus tahun 1992
2. SD Negeri Bakaran Kulon 01     Lulus tahun 1998
3. SLTP Negeri 1 Juwana                Lulus tahun 2001
4. SMU Negeri 2 Rembang             Lulus tahun 2004
5. Universitas Sebelas Maret           Lulus tahun 2011

Organisasi yang pernah diikuti

1. Pramuka UNS        tahun 2004 sampai 2011
2. KOPMA UNS        tahun 2004 sampai 2011
3. Yayasan KARAS   tahun 2011 sampai sekarang